RSS

” Aku Merindukan dan Menantimu disini “

Doaku : ” Tuhan.., siapapun dia, jodohku kelak. Hamba yakini, dia adalah seorang pria yang baik yang telah Engkau persiapkan dan akan Engkau hadirkan nanti sebagai “Pendamping Hidupku Selamanya”. Lindungilah dia dimana pun dia berada saat ini, Selalu menjaga Imannya hanya kepada-Mu dan menjaga hatinya kelak selalu untukku begitu juga dengan hatiku selalu untuknya. Tuntunlah setiap langkah kakinya selalu dengan Petunjuk dari-Mu. Jika pada saatnya nanti, Engkau pertemukan kami berdua, satukanlah hati kami dengan Seijin dari-Mu. Dan satukanlah kami dalam sebuah “Ikatan Suci Pernikahan” dengan ridho dari-Mu Ya Robb. Jadikanlah dia seorang hamba-Mu yang bisa menjadi Imam untuk Istri dan anak – anaknya nanti. Bisa membimbingku menjadi seorang yang lebih baik lagi, menjadi Istri dan Ibu dari anak – anaknya kelak. Hamba akan menantinya disini, menjaga hatiku selalu hanya untuk dia yang akan ku cintai seumur hidupku “. Amin..

Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk setiap hamba – hamba-Mu.

# Untukmu.., ” Pendamping Hidupku “, Kelak (Tulang Rusukku).

Jakarta, 17 Juni 2013.

– Ika Siwi Dewi’ –

 

Sehidup Semati

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2013 in Doa

 

” Kisah Sebuah Cangkir “

Simaklah kisah sederhana tentang sebuah cangkir yang ditempa dari tanah liat biasa.

Cangkir cantik mana pun yang pernah Kalian lihat akan memiliki sejarah yang hampir sama walau berasal dari tempat yang berbeda. Kalau cangkir ini mampu berbicara maka dengarlah rahasia kecantikannya yang membuat setiap orang tertarik untuk melihat dan membelinya.

Dengarlah kata – katanya. ” Terima kasih atas perhatiannya. Ketahuilah bahwa sebelum aku menjadi cangkir yang cantik, aku hanya lah seongok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku dengan keras ke sebuah roda berputar “.

” Kemudian ia mulai memutar – mutar aku hingga aku merasa pusing. Hentikan !! Hentikan !! “, aku berteriak. Tapi orang itu berkata, ” belum “. Ia mulai menyodok dan meninjuku berulang – ulang. ” Hentikan !! Hentikan !!”, teriakku lagi. Orang ini masih meninjuku dan tidak menghiraukan teriakkanku. Bahkan lebih buruk lagi, ia memasukkan aku kedalam tungku. ” Panas !! Panas !! “, teriakku dengan keras. ” Hentikan !! Cukup !! “, teriakku lagi. Lagi – lagi, orang ini berkata, ” belum !! “.

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian dan membiarkanku dingin. Aku kira selesai sudah penderitaanku. Ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Bau cat amat memualkan. ” Hentikan !! Hentikan !! “, aku kembali berteriak. Wanita itu berkata, ” belum !! “. Ia memberikan aku kepada seorang pria yang kemudian memasukkan aku ke dalam perapian yang lebih panas dari sebelumnya.

” Tolong !! Hentikan penyiksaan ini !! “, teriakku kuat – kuat sambil menangis, tapi orang ini tidak memperdulikanku. Setelah puas membakarku, dia membiarkan aku dingin kembali.

Setelah benar – benar dingin, seorang wanita mengelap dan mengangkatku kedekat sebuah cermin. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali, aku hampir tak percaya karena di depanku ada sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua penderitaanku seakan lenyap seketika tatkala melihat keadaan diriku. Aku baru tahu, ternyata perlakuan yang kurasakan begitu menyakitkan, telah membentukku menjadi sebuah cangkir cantik.

* Ambil Hikmah dari cerita ini. Semoga bermanfaat untuk kalian semua. Amin.. ^_^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2012 in Renungan

 

” Kisah Cinta Ali dengan Fatimah Azzahra “

” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan “.

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.

Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?”

Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ””Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!””Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?””Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan.

Usianya telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?””Entahlah..””Apa maksudmu?””Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!””Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.

Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu.”

Kemudian Nabi saw bersabda: “ Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:“ Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, Bab 4)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2012 in Kisah Islami

 

” Kau Segalanya Untukku “

Kau ajarkan aku tentang arti kehidupan..
Kau ajarkan aku tentang arti cinta yang sesungguhnya..
Kau ajarkan aku tentang rasa sakit, agar aku belajar darinya dan kembali bangkit di atas kedua kakiku..
Kau ajarkan aku tentang rasa syukur dengan apa yang telah ku dapatkan dalam hidupku..
Kau ajarkan aku tentang apa arti kebahagiaan dalam berbagi..
Kau ajarkan aku tentang kasih sayang terhadap sesama..
Cinta dan Kasih sayang-Mu begitu besar untukku..
Aku.., tidak sanggup hidup tanpa-Mu..
Kau pemilik jiwa dan ragaku, Penguat hatiku..
Bimbinglah hidupku selalu berada di jalan-Mu..
Hingga nanti, aku kembali kepada-Mu..
Dan ijinkanlah aku dapat bertemu dengan-Mu..
Amin..

Jakarta, 15 September 2012.

– Ika Siwi Dewi’ –

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2012 in Doa

 

” Assalamualaikum “

Selamat Datang di Blog ku,., ini adalah blog ke-3 saya. Semoga Blog Terbaru Saya, bisa bermanfaat buat kalian semuanya (Para Pembaca). Amin.. ^_^
Salam Kenal dari Saya..

Wassalam..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2012 in Pendahuluan

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 26 September 2012 in Uncategorized